Jakarta – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Anwar Manshur mengingatkan umat Islam tentang pentingnya kewaspadaan terhadap sejumlah kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap remeh. Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan ini berpotensi menjadi kebiasaan penghambat rezeki. Pesan ini disampaikan dalam pengajian Ramadhan Kitab Ta’limul Muta’allim, yang tayang di kanal YouTube Lirboyo dan diakses NU Online pada Selasa, 3 Maret 2026. Kiai Anwar menekankan bahwa rezeki dalam perspektif Islam tidak hanya bergantung pada usaha lahiriah semata, melainkan juga terkait erat dengan kondisi spiritual dan kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kiai Anwar Manshur, menegaskan bahwa dosa dapat menjadi penghalang terbukanya pintu rezeki. Ia menyoroti bagaimana perbuatan dosa, meski terkadang dianggap sepele, memiliki dampak spiritual yang signifikan.
“Seseorang dapat terhalang rezekinya karena dosa yang ia lakukan,” ujar Kiai Anwar.
Salah satu dosa yang secara khusus ia soroti adalah kebohongan. Kiai Anwar menilai dusta bukan sekadar pelanggaran moral, melainkan juga memiliki konsekuensi spiritual jangka panjang terhadap kehidupan seseorang. Ia secara eksplisit menyebutkan:
Ia mengajak masyarakat untuk merefleksikan fenomena normalisasi kebohongan, baik dalam interaksi pribadi maupun publik, sebagai kebiasaan penghambat rezeki yang harus dihindari.
Selain persoalan moral, Kiai Anwar juga menyinggung kebiasaan tidur setelah waktu Subuh. Menurutnya, pagi hari memiliki peran krusial dalam distribusi keberkahan. Waktu ini diyakini sebagai momen di mana Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba-Nya yang beraktivitas.
“Waktu pagi adalah saat di mana keberkahan didistribusikan. Tidur di waktu pagi itu menghalangi rezeki,” tuturnya.
Kiai Anwar mendorong umat Islam untuk memanfaatkan waktu fajar dengan berbagai aktivitas bernilai ibadah maupun kegiatan produktif. Amalan-amalan yang ia sebutkan sebagai upaya menarik keberkahan antara lain:
Upaya-upaya ini merupakan bagian dari ikhtiar spiritual untuk membuka pintu rezeki dan menjauhkan diri dari kebiasaan penghambat rezeki.
Lebih lanjut, Kiai Anwar Manshur menegaskan bahwa kualitas ibadah juga berpengaruh besar terhadap kelapangan rezeki. Ia menyoroti shalat sebagai ibadah fundamental yang tidak cukup hanya dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban. Aspek tuma’ninah atau ketenangan dalam shalat menjadi penentu nilai spiritualnya.
Kiai Anwar mengkritisi fenomena shalat yang dilakukan secara tergesa-gesa tanpa penghayatan mendalam. Dalam perspektif tasawuf, kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah SWT diyakini berbanding lurus dengan keberkahan hidup yang diperoleh. Selain itu, ia juga menyebutkan amalan-amalan spesifik:
Kiai Anwar menegaskan bahwa persoalan rezeki tidak hanya bertumpu pada strategi ekonomi atau kerja keras semata, melainkan juga pada pembenahan moral serta penguatan spiritual. Di tengah persaingan material yang semakin ketat, menjaga integritas batin dan menghindari kebiasaan penghambat rezeki dinilai sebagai kunci terbukanya pintu keberkahan.
“Menjaga diri itu wajib supaya pintu-pintu rezeki dan keberkahan datang,” pungkasnya. Pesan ini menjadi pengingat bagi umat Muslim bahwa keberhasilan hidup dalam Islam tidak hanya diukur dari aspek material, tetapi juga dari kualitas akhlak dan kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta.
Sumber: NU Online
No products in the cart
Return to shopForum yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi dalam menjawab tantangan-tantangan kemanusiaan di tingkat lokal, nasional, dan global.
Don't Show Again
Yes, Saya Hadir