Cerpen Pustaka di Langit Gaza Episode 3: Sahabat Baru

Pagi itu, setelah menata buku-buku di sudut kecil rumahnya, Rania kembali keluar bersama Yusuf. Mereka ingin mencari teman-teman di sekitar lingkungan untuk berbagi cerita tentang perpustakaan kecil mereka. Jalanan masih sepi, dengan udara pagi yang terasa dingin menyentuh kulit mereka.

“Yusuf, kita harus lewat pasar. Mungkin ada orang yang bisa kita ajak bicara,” kata Rania.

Di pasar, suasananya riuh dengan penjual dan pembeli yang saling tawar-menawar. Di sudut pasar, mereka melihat seorang anak laki-laki seusia Rania mendorong gerobak kecil yang penuh dengan barang-barang bekas. Bajunya lusuh, tapi matanya tajam, memperhatikan setiap gerakan di sekitarnya.

“Rania, lihat anak itu,” Yusuf berbisik sambil menunjuk.

Rania mendekati anak itu dengan hati-hati. “Halo,” sapanya lembut. “Namaku Rania, dan ini adikku, Yusuf. Kamu siapa?”

Anak itu menoleh dengan ragu, lalu menjawab, “Aku Karim.”

Rania tersenyum. “Karim, apa kamu tinggal di dekat sini?”

Karim mengangguk sambil menunjuk ke arah tenda kecil di pinggir pasar. “Aku tinggal di sana. Aku mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual. Kamu sedang apa di sini?”

Rania mulai bercerita tentang perpustakaan kecilnya di rumah. Ia menjelaskan bahwa ia ingin anak-anak di lingkungan mereka tetap bisa membaca dan belajar meski sekolah sudah hancur. Karim mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Buku? Aku sudah lama tidak membaca,” kata Karim pelan. “Aku dulu suka membaca sebelum semua… hancur.”

Rania merasakan kesedihan dalam nada suara Karim. Ia melihat peluang untuk mengajak Karim bergabung.

“Kalau begitu, datanglah ke rumah kami. Kamu bisa membaca lagi. Bahkan, kamu bisa membantu kami mengelola perpustakaan kecil itu,” tawar Rania.

Karim ragu sejenak, lalu berkata, “Aku bisa membawa buku-buku dengan gerobakku. Kalau kalian menemukan buku lagi, biar aku yang mengangkutnya.”

Yusuf bersorak kecil, “Bagus! Kita punya teman baru dan gerobak!”

Mereka bertiga berjalan pulang sambil mengobrol tentang buku-buku favorit mereka. Karim, meski awalnya pendiam, mulai merasa nyaman bersama Rania dan Yusuf. Ia bahkan menceritakan tentang keluarganya yang dulu punya perpustakaan kecil di rumah mereka sebelum semuanya hancur.

Ketika sampai di rumah, Rania menunjukkan perpustakaan kecil mereka kepada Karim. Matanya berbinar melihat buku-buku yang tertata rapi meski jumlahnya sedikit.

“Ini luar biasa,” kata Karim. “Aku akan membantu kalian. Perpustakaan ini bisa menjadi tempat semua anak di sini berkumpul.”

Hari itu, Rania, Yusuf, dan Karim memulai persahabatan mereka yang baru. Mereka tidak hanya berbagi buku, tetapi juga harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Author: Dr. Sunarto Zulkifli

Facebook Comments Box

You might also like
Shopping cart

No products in the cart

Return to shop
TERBATAS UNTUK UNDANGAN

Forum yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi dalam menjawab tantangan-tantangan kemanusiaan di tingkat lokal, nasional, dan global.

Promo Don't Show Again Yes, Saya Hadir
Chat WhatsApp
WhatsApp